Jumat, 03 Desember 2010

Diterjang berita

Era informasi yang terjadi saat ini menuntut orang berlomba-lomba mendapatkan informasi terbaru. Yang paling up to date di anggap sebagai orang yang modern. Media massa selaku sumber berita membentuk opini publik yang pastinya di ikuti oleh masyarakat. Opini publik menjadi suara dominan dan memmaksa masyarakat lain untuk masuk kedalamnya.
Dengan cara ini media massa sangat mudah mengendalikan masyarakat. bila media massa mudah mengendalikan masyarakat maka individu-individu yang menguasai media atau orang-orang yang bermodal dan berkekuatan besar bisa menggenggam masyarakat. Media butuh dana besar untuk tetap hidup.
Negara demokrasi seperti kita membuat opini publik sebagai kekuatan yang sangat ampuh. Lihat saja kasus prita dan RSI Omni. Dengan media massa yang membentuk opini publik "Prita hanya seorang ibu rumah tangga yang lemah" hukum pun di negosiasikan. Padahal RSI Omni adalah organisasi besar. Masyarakat sepertinya terlupa akan hukum yang sebenarnya berlaku. Begitu juga dengan kasus KPK. Karena opini masyarakat yang membela KPK, kasus ini tidak memberatkannya
Kita perlu kritis terhadap hal ini. Indenpendensi media massa perlu kita perhatikan. Masarakat tidak boleh hanya melahap mentah-mentah berita muncul dari media massa. Walau konteksnya media massa, namun tidak menutup kemungkinan media massa mau "berbohong". Realitas yang sebenarnya terkadang disembunyikan oleh media. Teori Agenda seting dan tujuan media massa mungkin bisa menganalisa masalah ini.
Pendidikan adalah hal penting dalam membangun kekritisan kita. Pendidikan di negara kita cukup mahal. Data masyarakat buta huruf indonesia pada umur 15 tahun ke atas 7,42%, 15-44 tahun 1,80%, 45 tahun keatas 18, 68%. Total 27,9 % masyarakat Indonesia buta huruf. yang sangat di sayangkan pada umur 15 tahun. Apakah ini salah satu strategi agar masyarakat Indoneisa mudah untuk di bodoh-bodohi?
Jangan mau menjadi boneka media massa. Negara kita negara hukum, bukan negara suara yang mendominasi yang menetukan. Biarkan hukum yang menentukan. Salah tetap salah, benar tetap benar. Bukan yang salah di benarkan dan yang benar di salahkan.
"Pers mungkin tidak berhasil banyak waktu dalam menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa" - Bernard C. Cohen, 1963.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar